Makan Besar… minggu ini feat. tahu petis

Featured

Semua diawali tepat seminggu yang lalu dengan agenda: pembubaran panitia 17an + syukuran pindah ruangan tetangga sebelah + rotasi pegawai sebidang + temen seruangan pulang prajab + satu teman lagi akan berangkat prajab + … (bisa diisi sendiri) — pfiiiuh momen kumpul itu ternyata gak usah dicari jauh-jauh ya. Jadilah kami, para ibu-ibu S*S, memulai kelas tata boga dadakan yang menghasilkan menu ayam bakar, ayam goreng, lalap lengkap dengan sambel terasi dan sambel tomat plus tumis ikan peda spesial ala bu cucum khusus untuk kalangan terbatas saja hehehe. Untuk makanan penutup, ada rujak! Dijamin seger + maknyuss. Sayangnya tidak ada dokumentasi,,jangankan mikirin foto, selesai shalat jumat, langsung serbu hajar bleh. Bau ayam goreng dan ayam bakar yang menggelitik hidung sudah gak bisa ditahan lagi…

Alhamdullillah semua senang walaupun makanan bersisa karena banyak yang gak bisa datang. Kita sebenarnya undang tetangga selantai tapi gak semua bisa ikutan. Beberapa temen yang dirotasi juga gak datang. Gapapalah… yang penting makanan akhirnya gak mubadzir, ibu-ibu siap sedia dengan pembungkus plastik di tangan –kayak gak tau aja—hihihihi. Saat itu tercetus: kapan-kapan kita begini lagi yah… Sesuatu yang bisa diartikan hanya omongan selewat lalu tapi ternyata tidak kali ini.

Tepat seminggu kemudian, ucapan itu diwujudkan. Kelas tata boga dibuka kembali. Kebetulan atasan saya baru datang dari Surabaya dengan oleh-oleh bumbu petis. Kita langsung gerak cepat. Menu kali ini Pecel dan Tahu Petis. Peserta Makan Besar juga gak sebanyak minggu lalu, hanya ruangan saya dan ruangan sebelah. Rasanya lebih privat. Semua kumpul melingkar lalu makan bersama. Totalnya ada 9 orang. Kali ini perkiraan jumlah makanan pas. Semua habis, eh kec. bumbu petis yang kemudian saya bungkus untuk dibawa pulang. Rencananya di rumah akan buat tahu petis juga, biar mama dan abah bisa ikut makan-makan hehehe

Dari obrolan saat makan tercetus lagi ide-ide untuk Makan Besar berikutnya. Dari pisang goreng, terong-teri-balado, lotek sampai sayur sop. Kami sepakat untuk patungan. Kita lihat saja bagaimana minggu depan. Moga semua rencana bisa dijalankan dan kita semua makan enak…yummy…! Nanti kita bahas lebih lanjut yah..plus ingatkan saya untuk memfotonya ^^

Apa yang saya suka dari Makan Besar ini bukan sekedar perut kenyang. Pertama, saya merasa keluarga saya pindah ke kantor. Semua proses yang dijalani seperti menyiapkan masakan, tempat makan dan menghidangkan menjadikan kami tidak seperti ‘teman kantor’ biasa. Tentu tidak semua masakan disiapkan di kantor, ada yang sudah dibumbui di rumah masing-masing, tapi toh kita menyiapkan hidangan disini bersama-sama kan. Tidak menghilangkan maknanya kok. Suasana keakraban seperti ini yang menurut saya belum tentu ada di tempat lain. Apalagi saya dan teman-teman masih akan 30 tahunan lagi bekerja bersama – lama yah. Oh ya masakan yang disiapkan di kantor juga yang simpel dan hanya perlu waktu persiapan singkat jadi gak ganggu pekerjaan. Kita gakkan meninggalkan pekerjaan karena makan-makan kok, tenang saja…

Kedua, saya belajar tentang kerja tim. Hal-hal kecil dari Makan Besar ini memperlihatkan bagaimana kami membagi tugas, saling memberi saran, membantu orang lain saat kita sudah menyelesaikan tugas sendiri, bahkan sampai brainstorming ide masakan untuk menu berikutnya. Semua berjalan natural apa adanya. Super Sekali… Andai setiap pekerjaan kantor dapat diproses seperti pelaksanaan Makan Besar ini hehehe

Ketiga, saya belajar masak! Saya, seorang pemula di bidang masak memasak, sangat berterimakasih pada ibu-ibu di kantor yang dengan sabar menjelaskan tips dan trik memasak. Akan saya buktikan kepada ibu-ibu sekalian, saya pasti bisa masak! *diucapkan dengan sepenuh hati*

Banyak hal terjadi dalam hidup. Banyak yang terlewat tanpa kita sempat menarik pelajaran. Banyak kejadian dimana kita meremehkan hal-hal kecil. Makan Besar dengan segala perintilan kecilnya mengajarkan banyak pada saya…

malas..titik, gak pake koma..

Akhir-akhir ini cuaca Bandung panas-dingin gak jelas…sudah masuk musim hujankah??? Waktu kuliah dulu, sejak bulan agustus, suhu Bandung sudah mulai mendingin. Harus rajin bawa payung. Mulai bergaya dengan jaket atau sweater hehehe Pernah sekali waktu, nginap di kampus dan mengalami suhu 10°C… ckckckck derita perubahan iklim…heu… tar dibahas lain waktu aja deh.puanjang….

Gimana Bandung sekarang?? Gak sedingin dulu tapi ekstrim panas-dinginnya tetap. Puanasss lalu tiba-tiba mendung trus hujan. Setelah berhenti, kembali lagi jadi puanasss…yah apapun yang terjadi, i still love this city!

Efek cuaca ini juga jadi pembenaran buat saya… MALAS.COM malas kerja.. malas nulis… malas ngurus blog yang baru seumur jagung ini… banyak target yang molor. Mafkan semuanya, saya lagi butuh dosis tinggi semangat nih – Ada saran?? Saya bahkan malas makan… hebat banget kan! {ssstttt… sebenarnya bukan malas tapi lagi program menurunkan berat badan :p}

Aaaarrrgggghhhh…. saya malas.

Belajar menulis

Om Pramoedya pernah bilang –om??! aje gile sok kenal banget yak

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
― Pramoedya Ananta Toer

Waktu diklat peneliti dulu, kita dikasih tau untuk menulis.. menulis.. menulis… 3x tuh biar afdol… Tuangkan hasil penelitian dalam jurnal, buku, proseeding dan lain-lain. Yang harus diingat, peneliti boleh salah tapi tidak boleh bohong!!! Jadi jangan hanya asal menulis demi angka kredit ya…

Untuk seseorang yang berjibaku di depan laptop malam ini, SEMANGAT!! Memang semua harus dimulai dengan tindakan nyata, bukan hanya omongan selewat lalu. Ditambah komitmen tentunya. Hmmm kapan yah bisa ikut mulai………..

Semoga lain kali melembur bersama.. itu saat kita menulis bersama.. hahay ^^

Langkah Pertama

Kata orang, langkah pertama itu lebih berat. Butuh keberanian. Dan saya setuju…

Sudah lama saya wara wiri di blog orang, hanya sebagai pengamat tentunya. Saya selalu kagum dengan mereka yang mampu menuangkan pikiran dalam bentuk rangkaian kata. Tentang apapun itu. Bagaimana tulisan itu berbekas setidaknya bagi sang penulis itu sendiri. Dan begitulah saya, hanya terkagum, hanya mengamati, tanpa membuat tangan saya bergerak.

Lalu kenapa sekarang? Mungkin karena otak saya sudah macet parah sehingga harus diurai lagi lewat media ini. Mungkin akhirnya saya berani, just as simple as that.

Well whatever the reason is, get ready for another journey…Hopefully you’ll enjoy my chaotic life! ^^